Universitas Gadjah Mada menggelar panen padi Gamagora di Desa Gunungsari, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jumat (10/7). Panen tersebut menjadi penanda dimulainya perluasan pengembangan varietas padi hasil inovasi UGM di wilayah Madiun melalui penyerahan 300 kilogram benih Gamagora kepada tiga desa lokasi Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM, yakni Desa Gunungsari, Tanjungrejo, dan Tulungrejo. Selain panen padi Gamagora, UGM juga meresmikan pengembangan Living-Lab dari Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM di desa tersebut yang diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, petani, pemerintah desa, dan mitra dalam mempercepat hilirisasi inovasi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., mengatakan penguatan sektor pertanian menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini tidak cukup diselesaikan melalui kebijakan semata, tetapi memerlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan Living-Lab menjadi salah satu upaya UGM menghadirkan ruang kolaboratif agar inovasi pertanian dapat diuji, dikembangkan, dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. “Universitas Gadjah Mada bersama keluarga alumni ingin mengembangkan living laboratory untuk kehidupan yang terus-menerus berkembang, baik di bidang pertanian, perikanan, teknologi alternatif, maupun bidang lainnya,” ujarnya.

Arie menambahkan, regenerasi petani menjadi tantangan besar yang perlu dijawab bersama. Menurutnya, semakin terbatasnya lahan pertanian dan rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian perlu diimbangi dengan hadirnya inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan harapan baru bagi petani. Karena itu, Living-Lab diharapkan menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman petani di lapangan. “Saya berharap Gamagora ini menjadi salah satu pintu masuk untuk membangkitkan masyarakat. Kuncinya tetap berada pada rakyat desa yang memiliki semangat untuk bersama-sama membangun pertanian,“ katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Alan Soffan, Ph.D., menjelaskan bahwa Gamagora merupakan varietas padi yang dilepas pada 2023 dan telah melalui pengujian di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil uji multilokasi, varietas tersebut memiliki produktivitas rata-rata mencapai 7,9 ton per hektare dengan potensi hasil hingga 9,8 ton per hektare. Saat ini Gamagora telah dikembangkan mulai dari Pulau Enggano di Bengkulu hingga Merauke, Papua, sebagai bagian dari upaya memperluas adopsi inovasi pertanian UGM. “Sekarang Bapak-Ibu menjadi bagian dari ribuan petani dan ribuan hektare yang menanam Gamagora. Ini baru dilepas tahun 2023, tetapi pengembangannya sudah menjangkau berbagai daerah di Indonesia,” jelasnya.
Alan menerangkan, Gamagora memiliki sejumlah keunggulan dibanding varietas yang telah lama dibudidayakan petani. Selain berumur genjah, varietas ini memiliki batang lebih pendek sehingga lebih tahan rebah, mampu beradaptasi di lahan sawah maupun tadah hujan, serta memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap sejumlah penyakit tanaman. Pengembangan Gamagora juga didukung paket teknologi budidaya yang dikembangkan UGM, mulai dari pemanfaatan mikroba hayati, pupuk, hingga teknologi pengelolaan air untuk meningkatkan produktivitas pertanian. “Kalau kami membawa Gamagora, kami juga membawa ekosistemnya. Jadi bukan hanya benihnya, tetapi juga teknologi budidaya yang mendukung agar hasil panen petani bisa lebih optimal,” ungkapnya.

Peneliti PSPK UGM, Mohammad Ghofur, M.Sc., menjelaskan pengembangan Living-Lab di Madiun turut didukung melalui Program Equity Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM. Melalui program tersebut, UGM menyerahkan sebanyak 300 kilogram benih Gamagora yang akan didistribusikan ke Desa Gunungsari, Tanjungrejo, dan Tulungrejo sebagai lokasi pengembangan berikutnya. Pendampingan kepada petani akan terus dilakukan bersama Fakultas Pertanian dan PIAT UGM untuk mengevaluasi hasil budidaya sekaligus menyempurnakan teknologi yang diterapkan di lapangan.
Pengembangan Gamagora di Madiun juga mendapat dukungan dari PT Sang Hyang Seri yang menyatakan kesiapan menjalin kemitraan dalam produksi benih. Perusahaan tersebut bahkan menyiapkan kebutuhan lahan sekitar 50 hektare untuk mendukung pengembangan Gamagora sehingga ketersediaan benih dapat dipenuhi dari daerah sendiri. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat hilirisasi inovasi UGM sekaligus membuka peluang pengembangan sentra benih di Kabupaten Madiun.
Perwakilan Pemerintah Desa Gunungsari, Sumaryo, menyambut baik pengembangan Living-Lab PSPK dan introduksi varietas Gamagora di wilayahnya. Menurutnya, petani membutuhkan alternatif varietas baru yang lebih adaptif terhadap tantangan budidaya yang semakin kompleks, mulai dari serangan hama hingga penurunan produktivitas varietas yang selama ini ditanam. Ia berharap pengembangan Gamagora mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menjadi awal penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Madiun. “Harapan kami, varietas Gamagora yang ditanam di Gunungsari ini bisa berhasil dan menghasilkan panen yang lebih meningkat sehingga memberikan manfaat bagi petani di daerah ini,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
