MarkPlus Corporate memberikan sertifikat penghargaan kepada Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., sebagai bentuk apresiasi atas kepercayaannya kepada Mcorp dalam mendukung reposisi Universitas Gadjah Mada dalam mengusung slogan “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan”. Pemberian penghargaan ini diberikan langsung oleh Pendiri MarkPlus Corporation, Hermawan Kartajaya, Kamis (27/8), di sela rangkaian Indonesia Marketing Festival 2026: Winning The Competition in The Age of AI yang berlangsung di Hotel Santika Premiere Yogyakarta.
Rektor UGM, Ova Emilia, menceritakan bahwa dulunya universitas memiliki slogan mengakar kuat menjulang tinggi, tetapi untuk istilah baru ini menguatkan makna yang lebih dalam. Ia menyebutkan penggalian slogan baru yang berupa “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan” ini merupakan sinergi dari berbagai pihak baik melalui bantuan MCorp, mahasiswa, dosen, serta segenap sivitas akademika.
Ova menggarisbawahi sedari dulu universitas ini senantiasa menonjolkan karakteristik kerakyatannya. Ia menyebut kemanapun UGM bergerak bersama dengan alumni di belahan daerah senantiasa tidak menjadi pihak yang memonopoli. Sebaliknya, UGM melalui kurang lebih 400 ribu alumninya senantiasa bisa menjadi pihak yang memberdayakan masyarakat untuk maju bersama.
Hermawan Kartajaya mengapresiasi kerja sama MarkPlus dengan pihak UGM yang sudah terjalin selama ini. Selain perubahan slogan, di bidang edukasi pihaknya ikut menginisiasi jurusan Doktor Administrasi Bisnis (DBA) pertama di Indonesia bersama Fakultas Pertanian UGM. Jurusan ini berkaitan dengan agrikultur internasional marketing. “Luar biasa UGM ini tetap menjalankan repositioning di kala masa sulit. Setuju menjadi universitas yang merakyat, mandiri, dan berkelanjutan,” sebutnya.
Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam pidato sambutannya menyoroti konsep pemasaran yang berpusat pada pelanggan perlu dilakukan selangkah lebih maju. Pasalnya, konsep isu kepatuhan menjadi strategi pertumbuhan karena kepercayaan menjadi bernilai sebagai sumber keunggulan. Sultan menyebutkan kecerdasan AI dapat memenangkan perhatian atau meningkatkan transaksi, tetapi hanya kepercayaan yang dapat memenangkan masa depan. “Bukan hanya menjadi lebih cepat, akurat, canggih, tetapi kemenangan sejati kemajuan teknologi bersamaan dengan kemajuan moral. Tidak menghilangkan empati, tidak mengorbankan kepercayaan, dan ketika AI tetap berada di bimbingan kebijaksanaan manusia,” pesannya.
Ia menyebutkan bahwa persaingan AI telah menempatkan teknologi yang semakin mampu membaca pilihan manusia. Menurutnya, hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana kemenangan diraih dan nilai yang tetap dijaga ketika teknologi memberi pengaruh besar. “Dalam budaya Jawa adanya ungkapan tuna satak bathi sanak yang artinya kebijaksanaan mengajarkan kehilangan sedikit untuk memperoleh sesuatu yang lebih bernilai seperti hubungan baik, kepercayaan, persaudaraan,” ungkapnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
