Sementara, dari perspektif ilmu komunikasi, fenomena penggunaan media sosial sebagai alat penyebaran informasi secara berlebihan akan memicu “otak lemot” dan mengikis pemikiran kritis. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Prof. Dr. Drs. Ana Nadhya Abrar, M.E.S. menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan justru akan membuat penggunanya tidak benar-benar mendapatkan informasi. “Media sosial dapat menjebak pengguna dalam gelombang informasi yang memperkuat bias, algoritma media sosial dalam menentukan konten sesuai kepentingan platform, menciptakan polarisasi masyarakat, dan menyebabkan ketergantungan digital serta erosi pemikiran kritis,” ungkapnya pada diskusi publik yang bertajuk “Edukasi Kesehatan di Media Sosial” di Auditorium Fisipol UGM, Sabtu (6/6).
Abrar turut menjelaskan bahwa algoritma media sosial yang ditawarkan tersebut dapat mengontrol pengguna dan menjadikan data pribadi sebagai komoditas. Ia menegaskan bahwa keberadaan dari media sosial sebenarnya diciptakan agar platform besar dapat mengontrol pengguna. Oleh karenanya, Abrar mengimbau bagi para pengguna aktif media sosial, khususnya pada Gen-Z, untuk harus memiliki otoritas diri dan tidak menyerahkannya kepada orang lain, media, atau influencer. Ini menyiratkan pentingnya kesadaran diri dan kemampuan untuk membuat keputusan yang sehat bagi diri sendiri. “Orang yang pintar adalah orang yang bisa menyadari keadaan diri dan tahu kepada siapa harus bertanya atau mencari pengobatan jika sakit. Ini menunjukkan pentingnya kesadaran akan kondisi diri, termasuk kondisi mental,” terangnya.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Rianti Maharani, menjelaskan bahwa masalah kesehatan pada generasi muda bukan lagi karena kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa transformasi perilaku. Beliau menjelaskan bagaimana media sosial membentuk perilaku kesehatan generasi Z, mulai dari algoritma yang memengaruhi konten yang dilihat, perubahan persepsi, hingga keyakinan yang mengarah pada perubahan perilaku. Namun, Rianti juga mengingatkan tentang bahaya hoaks kesehatan, informasi palsu, dan influencer yang tidak kredibel. ”Pertama buka cakrawala berpikirnya dulu, baru setelah itu digeser dari persepsi baru nanti jadi perubahan perilaku. Tetapi tetap ada gangguan prosesnya juga, termasuk hoaks kesehatan tadi. Karena hoaks melebihi kecepatan cahaya, masyarakat lebih cepat menangkap hal tersebut, daripada informasi kesehatan yang benar,” jelasnya.
Untuk mencegah dari penyakit, Rianti menekankan pentingnya “Small Habit Big Impact” dalam mencapai gaya hidup sehat. Ia menyarankan perubahan kecil yang berkelanjutan, seperti tidur cukup, jalan kaki 10-30 menit setiap hari, minum air yang cukup, mengurangi screen time, dan mengonsumsi raw food. Melalui hal ini, ia percaya bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut mampu mengubah kehidupan menjadi lebih baik. “Mulai dari hal-hal yang bisa kita lakukan, mulai yang bisa dikontrol diri. kita sendiri. Perubahan kecil lebih akan mendorong berkelanjutan daripada perubahan yang drastis sekali,” jelasnya.
Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
