Persoalan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu lingkungan. Dengan pendekatan yang tepat, sampah dapat menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah, termasuk melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Dalam mendukung agenda tersebut, Kemdiktisaintek berperan sebagai penggerak ekosistem riset nasional melalui tiga fokus utama, yaitu perbaikan tata kelola, transformasi sosial, dan pengembangan teknologi. “Kemdiktisaintek itu memiliki tiga peran utama, yaitu perbaikan tata kelola, transformasi sosial, dan teknologi itu sendiri,” ujar Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., dalam Dialog Indonesia Punya Kamu yang bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional” yang diselenggarakan oleh UGM dan Garuda TV di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (12/6).
Selain itu, Fauzan menjelaskan bahwa sekitar 50 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik yang masih dapat diolah, sementara 25 persen lainnya berpotensi didaur ulang. Adapun sampah residu yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi pembangkit listrik.
Meski peluangnya besar, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada skala industri. Karena itu, pemerintah terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, lembaga riset, dan mitra internasional guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian terkait pengolahan sampah ini.
Fauzan menuturkan perguruan tinggi memiliki kontribusi besar dalam pengembangan riset pengelolaan sampah dan energi. “Dalam pemetaan yang dilakukan kementerian, UGM menjadi salah satu institusi dengan jumlah penelitian terbanyak pada bidang tersebut,” katanya.
Menurut Fauzan, keberhasilan pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat. Pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga menjadi langkah paling mendasar untuk memastikan proses pengolahan dapat berjalan secara optimal. Untuk mendukung hal tersebut, perguruan tinggi didorong terlibat melalui program pemberdayaan masyarakat dan pengabdian yang melibatkan mahasiswa secara langsung.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Dr. Cuk Supriyadi Ali Nandar, S.T., M.Eng., menyoroti pentingnya penguatan pengelolaan sampah dari tingkat hulu. Ia mengungkapkan bahwa volume sampah nasional diperkirakan terus meningkat hingga mencapai lebih dari 146 ribu ton pada tahun 2029. Kondisi tersebut menuntut adanya sistem pengelolaan yang dimulai sejak sumbernya, terutama di tingkat desa. “Untuk mendukung program tersebut, kita harus mulai dari hulunya, yakni dari desa,” ujarnya.
Menurutnya, desa memiliki posisi strategis karena sebagian besar sampah organik dapat dikelola sebelum bercampur dengan sampah anorganik. Jika sampah sudah tercampur dan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), proses pengolahan akan menjadi jauh lebih sulit dan kurang efisien.
Selain penguatan sistem pengelolaan, Cuk juga menilai keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis sampah. Oleh karena itu, ia berharap semakin banyak investor dan pelaku usaha yang tertarik mengembangkan industri pengolahan sampah di Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyoroti agenda strategis transisi energi yang akan menentukan masa depan pemanfaatan energi berkelanjutan di tanah air. Menurutnya, upaya mewujudkan sistem energi yang bersih, andal, terjangkau, dan berkeadilan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda. “Bagi Indonesia, transisi energi ini merupakan agenda yang super penting. Bagaimana mewujudkan transisi energi yang bersih, handal, terjangkau, berkeadilan, sesuai dengan karakter bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menurut Danang, transisi energi tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu saja. Kompleksitas persoalan energi menuntut pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan aspek teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial, hingga kebijakan publik. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki beragam bidang keilmuan, UGM berupaya mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Isu energi tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu bidang studi saja. Oleh karena itu, UGM sebagai universitas yang komprehensif menggunakan pendekatan lintas disiplin untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam mendukung keberhasilan transisi energi. Menurutnya, media memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi publik, meningkatkan literasi masyarakat, dan memperluas pemahaman mengenai berbagai isu energi yang sedang dihadapi Indonesia. “Kerja sama ini bisa mewujudkan peran media menjadi sangat penting dalam komunikasi publik,” katanya.
Di sela kegiatan dialog, UGM turut menampilkan inovasi kendaraan listrik eKarsa, karya Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) UGM. Kendaraan listrik tersebut dirancang untuk mendukung mobilitas pengunjung di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM sekaligus menjadi contoh nyata hilirisasi hasil riset kampus.
Ketua Program Studi Teknik Elektro DTETI UGM, Dr. Iswandi, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa pengembangan eKarsa merupakan hasil sinergi antara pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama industri. Melalui kolaborasi tersebut, inovasi yang lahir di kampus tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa eKarsa menggunakan komponen yang tersedia di pasar domestik sehingga memudahkan proses perawatan dan penggantian suku cadang. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya untuk meningkatkan kemandirian teknologi nasional dalam pengembangan kendaraan listrik. “Kami menggunakan komponen-komponen yang ada di pasaran sehingga kalau rusak tidak harus membeli dari luar negeri. Jadi kami menggunakan komponen yang mudah diperoleh,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
