Keterbatasan ekonomi hingga kehilangan sosok ayah jelang Ujian Masuk UGM, tidak menyurutkan semangat Francisca Rani Indira (18) dalam menggapai mimpi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Rani masih ingat persis, ia harus belajar persiapan SNBT dan UM UGM CBT di rumah sakit karena harus menemani sang ayah yang terbaring sakit. Ia sempat kesulitan membagi fokus antara belajar dan mendampingi keluarga. “Waktu itu bapak dirawat di rumah sakit, jadi buat belajar juga susah fokus. Setelah nggak keterima SNBT, aku langsung belajar lagi buat UM UGM,” ujarnya saat diwawancara, Kamis (23/7).
Namun, ditengah perjuangan kerasnya untuk melanjutkan pendidikan harus diiringi duka mendalam karena sang ayah akhirnya meninggal dunia. Meski demikian, Rani segera bangkit dengan waktu persiapan hanya tersisa 11 hari untuk menghadapi ujian mandiri UGM atau UM UGM CBT. Meski dalam suasana duka, Rani tetap semangat belajar bahkan memilih belajar di ruang perpustakaan daerah hingga malam. “Aku seringnya belajar di Perpusda. Selama sekitar 11 hari aku mengerjakan 100 sampai 200 soal setiap hari,” kenangnya.
Berbekal kerja keras dan ketekunan, ia akhirnya berhasil diterima di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada melalui jalur UM UGM CBT.
Sosok Ibu
Sejak sang ayah meninggal dunia, Rani hanya tinggal bersama ibunya, Yuani (48), di rumah sederhana yang berada di Dusun Suren Wetan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul. Sosok Ibunya lah yang saat menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh di sebuah rumah produksi keripik tempe.
Di balik perjuangannya, tersimpan motivasi sederhana dari Rani, yakni membahagiakan ibunya dan mewujudkan harapan mendiang sang ayah. Sebagai anak tunggal, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang sejak lama berharap putrinya dapat berkuliah di UGM. Baginya, keberhasilan diterima di UGM menjadi persembahan bagi sosok ayah yang selalu mendukung setiap langkahnya. “Aku pengen banget ngebahagiain ibu karena sekarang tinggal punya ibu. Terus bapak juga dulu pengen banget anaknya bisa masuk UGM. Bapak yang dari dulu mengantar aku sekolah, menemani ambil rapor, sampai menyemangati aku dalam belajar,” ungkapnya haru.
Perjuangan Rani juga tidak lepas dari dukungan sang ibu yang selama ini hadir meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi. Sejak suaminya meninggal dunia, Yuani menjadi tulang punggung keluarga dan menjadi orang tua tunggal. Meski sempat diliputi kekhawatiran mengenai biaya kuliah, ia dan almarhum suaminya tidak pernah ingin mematahkan semangat Rani untuk melanjutkan pendidikan. “Senang sekali. Dari kemarin bapaknya juga ingin anaknya bisa masuk UGM. Enggak tahu nanti biayanya bagaimana, diurus nanti sambil jalan,” ujarnya mengenang cita-cita sang suami.
Beruntung bagi Rani, selain diterima kuliah di UGM, ia pun memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga 100% atau kuliah gratis di UGM. Bagi Yuani, keberhasilan putrinya diterima di UGM menjadi awal dari perjalanan baru. Ia berharap putri semata wayangnya dapat menjalani perkuliahan dengan lancar, tetap tekun belajar, dan mampu meraih cita-cita yang selama ini diperjuangkan. Menurutnya, semangat belajar yang telah ditunjukkan Rani sejak kecil menjadi modal penting untuk menempuh pendidikan tinggi. “Semoga diberikan kelancaran kuliahnya, dipermudah urusannya. Rajin belajar ya, nak, biar orang tua juga semangat,” pungkas Yuani.
Yuani mengatakan putri tunggalnya itu termasuk anak yang aktif berorganisasi di sekolah. Hal senada juga disampaikan oleh Rani yang mengaku sejak duduk di bangku di SMAN 2 Bantul, ia aktif mengikuti berbagai macam kegiatan. Sejak kelas 10 SMA, ia bergabung dalam tim riset di sekolahnya dan pernah melakukan penelitian mengenai kehidupan pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Selain itu, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR), aktif sebagai pengelola perpustakaan melalui organisasi Prapanca Muda, serta terlibat dalam kegiatan kerohanian. Baginya, pengalaman berorganisasi dan melakukan riset memberikan pelajaran berharga yang tidak selalu diukur dari kemenangan dalam perlombaan. “Guruku pernah bilang, di riset itu menang adalah bonus. Yang paling berharga itu ketika kita bisa menyelesaikan prosesnya sampai selesai,” tuturnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Hanifah
