Sebanyak 27 mahasiswa lintas jurusan yang terbagi ke dalam klaster Agro, Medika, Saintek, dan Soshum, tergabung dalam tim KKN PPM UGM Pesona Samosir ini telah melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan KKN di Desa Turpuk Sihotang dan Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Salah satu program unggulan yang tengah dikembangkan adalah penerapan teknologi tepat guna Drip Irrigation System atau irigasi tetes, yakni sebuah sistem irigasi berbasis sensor yang dirancang untuk membantu petani dalam menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau.
Koordinator Mahasiswa Tingkat Sub-Unit KKN-PPM UGM Pesona Samosir, Raja Panggabean, mengungkapkan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu fokus utama tim karena merupakan mata pencaharian utama masyarakat di lokasi pengabdian. Berdasarkan hasil observasi, tim menemukan bahwa petani di Desa Turpuk Sihotang dan Desa Sosor Dolok kerap menghadapi keterbatasan pasokan air ketika musim kemarau tiba. Kondisi tersebut menyebabkan kelembapan tanah menurun sehingga berdampak pada kualitas lahan pertanian di kedua desa. “Berangkat dari permasalahan tersebut, kami menginisiasi pengembangan Drip Irrigation System atau irigasi tetes, yaitu sistem irigasi berbasis sensor,” ujar anggota tim mahasiswa KKN dari Program Studi Biologi UGM ini, Kamis (23/7).
Raja menjelaskan, sebelumnya para petani masih mengandalkan penyiraman secara konvensional. Melalui sistem yang dikembangkan Tim Harian Samosir, petani cukup mengisi air ke dalam penampungan, sementara sensor akan bekerja secara otomatis mendeteksi tingkat kelembapan tanah. Ketika kelembapan menurun, sistem akan langsung mengalirkan air ke lahan pertanian sesuai kebutuhan. “Dengan begini, kelembapan tanah bisa tetap terjaga meskipun memasuki musim kemarau sehingga kualitas lahan pertanian tidak mengalami penurunan,” tambahnya.
Meski berfokus pada sektor pertanian, irigasi tetes dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin. Raja memaparkan, mahasiswa dari klaster Agro bertugas untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi para petani di lapangan, sedangkan klaster Sains dan Teknologi mengembangkan sistem melalui pemrograman sensor serta penyediaan infrastruktur pendukung. Adapun klaster Sosio Humaniora, kata Raja, berperan untuk melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat agar sistem yang mereka kembangkan dapat dipahami sekaligus dimanfaatkan oleh masyarakat. “Jadi, setiap klaster memiliki peran masing-masing sehingga program ini benar-benar dikerjakan secara kolaboratif,” tuturnya.
Selain di sektor pertanian, Tim KKN-PPM UGM Pesona Samosir juga mengembangkan sejumlah program di bidang lingkungan. Raja mengatakan bahwa tim juga menemukan persoalan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan di Desa Turpuk Sihotang dan Desa Sosor Dolok. Berangkat dari kondisi tersebut, tim menawarkan solusi melalui penyuluhan tentang Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) guna menciptakan pengelolaan sampah secara terintegrasi. “Kami ingin agar masyarakat tidak hanya diajarkan memilah sampah, tetapi juga memahami bagaimana setiap jenis sampah dapat diolah kembali sehingga tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir,” jelasnya.
Raja melanjutkan, saat ini tim juga telah mengedukasi masyarakat agar dapat memilah sampah dengan benar sehingga pengelolaannya menjadi lebih efektif. Untuk sampah organik, misalnya, masyarakat didorong mengolahnya menjadi eco-enzyme. Sementara itu, sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi conblock sebagai produk yang memiliki nilai guna. “Jadi, selain penyuluhan tentang TPS 3R, kami juga berupaya membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola lingkungan, khususnya pengelolaan sampah,” ujarnya. Melalui program ini, harap Raja, paradigma masyarakat yang sebelumnya masih kurang peduli terhadap sampah dapat berubah menjadi lebih sadar akan pentingnya pengelolaan lingkungan.
Di sisi lain, salah satu anggota klaster Sosio Humaniora, Kayessa Sianipar, mengakui bahwa kegiatan pengabdian di Pulau Samosir tak luput dari berbagai tantangan. Pada minggu-minggu awal pelaksanaan KKN, dirinya dan anggota tim harus beradaptasi dengan lingkungan baru, cuaca yang relatif dingin, hingga padatnya agenda koordinasi dan persiapan program kerja. Kondisi tersebut bahkan sempat menyebabkan beberapa anggota tim jatuh sakit sehingga pelaksanaan sejumlah kegiatan harus disesuaikan. “Beban pekerjaan di awal memang cukup berat, hampir semuanya berlangsung secara bersamaan. Namun, sekarang aktivitas kami sudah jauh lebih stabil dibandingkan minggu-minggu awal sebelumnya,” tuturnya.
Meski demikian, Kayessa berharap berbagai program pemberdayaan masyarakat yang telah dijalankan tim dapat terus dilanjutkan, bahkan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat. Ia berharap potensi yang dimiliki Desa Turpuk Sihotang dan Desa Sosor Dolok dapat terus berkembang sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Semoga program-program yang kami tinggalkan dapat terus berlanjut sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi desa,” harap mereka.
Senada dengan Kayessa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Tim KKN-PPM UGM Pesona Samosir 2026, Dr. Airin Liemanto, S.H., LL.M., berharap berbagai program yang telah diinisiasi mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan terus berlanjut setelah masa KKN berakhir. Tak lupa, ia juga menilai bahwa kegiatan pengabdian ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah guna membantu menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Menurut Airin, KKN bukan sekadar wadah menjalankan program kerja, tetapi juga sarana membentuk karakter mahasiswa agar lebih tangguh, peka terhadap kondisi sosial, serta memiliki perspektif yang lebih luas dalam memaknai kehidupan. “Pelaut yang hebat tidak lahir dari laut yang tenang. Segenap pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi menjadi sarana untuk membentuk karakter yang tangguh dan mengabdikan ilmu demi membantu masyarakat,” ujar Airin saat dihubungi secara terpisah, Rabu (22/7).
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim KKN
