Sebanyak 129 mahasiswa dari Fakultas Biologi mengikuti upacara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu (19/8) lalu di Grha Sabha Pramana. Dari 129 lulusan sarjana tersebut, 6 diantaranya lulusan dari Program Double Degree S1 IUP Biologi UGM dengan Leeds University, Inggris.
Kezia Uineke merupakan salah satu wisudawan yang memperoleh gelar ganda. Bagi Kezia, menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan University of Leeds, Inggris, bukan sekadar kesempatan untuk belajar di dua negara. Namun menjadi ajang untuk bisa belajar lebih mandiri, hingga membentuk cara pandangnya terhadap ilmu dan rencana pendidikan yang akan ditempuhnya.
Ia mengaku bersyukur bisa menyelesaikan program gelar ganda ini. Ketertarikan Kezia untuk mengikuti program double degree sudah ada sebelum dirinya menjadi mahasiswa UGM. Saat mencari informasi mengenai UGM, ia menemukan berbagai kerja sama dengan universitas di luar negeri dan sejak saat itu mulai mengincar kesempatan untuk mengikuti program itu. “Aku dari sebelum masuk UGM sudah merencanakan dan memang mengincar double degree-nya,” ujar Kezia, Kamis (27/8).
Ketertarikannya semakin kuat karena minat Kezia pada bidang bioteknologi. Menurutnya, bioteknologi memiliki banyak hal yang masih dapat dikembangkan, terutama untuk menghasilkan penerapan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Aku memang minatnya sebenarnya dari awal itu di biotek. Dan kebetulan waktu itu ada pilihan Biotech with Enterprise. Berarti kan ada biologinya, bioteknya, sama ada segi bisnisnya juga,” jelasnya.
Menurut Kezia, perpaduan antara ilmu biologi, bioteknologi, dan bisnis memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih aplikatif.
Menemukan Cara Belajar yang Berbeda
Selama menjalani studi di University of Leeds, Kezia menemukan perbedaan dalam sistem pembelajaran yang ia jalani di UGM. Salah satu perbedaan paling terasa adalah kegiatan laboratorium. Jika di UGM praktikum dapat berlangsung dalam beberapa sesi pada berbagai mata kuliah, di Leeds kegiatan laboratorium cenderung lebih terfokus. Mahasiswa diberikan waktu lebih panjang untuk mengembangkan eksperimen dan menentukan sendiri bagian yang ingin mereka dalami. “Kalau di sana itu semuanya fokus. Cuma ada satu atau dua lab tergantung mata kuliahnya ada lab atau enggak. Dan dari situ dikasih waktu biasanya satu bulan karena benar-benar kita disuruh mikir sendiri,” katanya.
Menurutnya, pembelajaran di Leeds tidak hanya berfokus pada pengetahuan atau aspek kognitif. Mahasiswa juga dilatih untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang mendukung proses penelitian, seperti melakukan eksperimen, membuat tulisan ilmiah, serta mempresentasikan hasil penelitian. Ia juga mendapatkan pengalaman untuk belajar bagaimana menjelaskan penelitian dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas. “Yang dipelajarin di situ bukan cuma yang kognitifnya, tapi juga skills-nya,” tuturnya.
Bagi Kezia, pengalaman tinggal di Leeds juga memberikan kesenangan sederhana. Ia menikmati lingkungan kota yang memungkinkan dirinya berjalan kaki dan mengamati perubahan musim. Ia mengaku senang melihat perubahan tumbuhan sepanjang tahun, termasuk ketika bunga mulai bermekaran dan lingkungan berubah mengikuti musim. “Musim dan tumbuhan yang berubah itu menarik banget untuk dilihat,” ungkapnya.
Skripsi Berbasis Penelitian
Pengalaman akademik di Leeds kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan skripsi Kezia. Di kampus University of Leeds memilih supervisor yang telah memiliki laboratorium dan penelitian yang sedang berjalan. “Kalau di sana sistemnya kita milih supervisor. Jadi nanti dari supervisor itu, dia yang nentuin kita penelitiannya apa,” jelasnya.
Setiap dosen di Leeds, menurut Kezia, memiliki laboratorium dengan penelitian yang sedang berlangsung. Mahasiswa kemudian bergabung dalam penelitian itu. Meskipun topik penelitian ditentukan oleh supervisor, proses penelitian dan penulisannya tetap dikerjakan oleh mahasiswa. “Makanya mereka yang langsung keluarkan topiknya apa, tapi keseluruhannya seperti riset dan penulisannya itu kita yang ngelakuin,” katanya.
Melalui sistem itu, Kezia mengerjakan skripsi berjudul Bioinformatics Analysis of AHNAK2 and PIK3CA Protein Mutations in Ovarian Cancer. Skripsinya dikerjakan berbasis penelitian di University of Leeds, menggunakan pendekatan bioinformatika untuk mempelajari mutasi protein yang berkaitan dengan kanker ovarium. Penelitian itu berangkat dari sebuah dataset yang memuat sejumlah protein yang mengalami mutasi pada kanker ovarium. Kezia kemudian memilih dua protein untuk dianalisis, yakni AHNAK2 dan PIK3CA.
Secara sederhana, ia membandingkan sekuens protein normal dengan sekuens yang mengalami mutasi. Dari perbandingan itu, ia mengamati perubahan yang terjadi, mulai dari lokasi mutasi, perubahan struktur protein, hingga kemungkinan dampaknya terhadap fungsi protein. “Intinya aku melihat perubahan di situ dan aku melihat dari strukturnya juga, kira-kira berubahnya bagaimana,” jelasnya.
Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru, Kezia tetap merasakan dukungan dari lingkungan UGM. Ia menyebut para dosen di UGM memberikan perhatian dan bantuan selama menjalani program double degree. Hubungan itu, menurutnya, terasa lebih dekat dibandingkan dengan hubungan mahasiswa dan dosen di Leeds yang cenderung lebih formal. Mulai dari sistem administrasi hingga kendala akademik, Kezia menuturkan jika dosen dan tendik UGM sangat terbuka kepadanya. “Dosen-dosen yang di UGM benar-benar supportive dan siap membantu kapanpun,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan program double degree, Kezia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia merasa pengalaman belajar di UGM dan University of Leeds justru saling melengkapi. Pengetahuan yang diperoleh di UGM menjadi dasar akademik, sedangkan pengalaman di Leeds memberinya keterampilan untuk berpikir dan melakukan penelitian secara lebih mandiri.
Bagi Kezia, kesempatan menjalani pendidikan di dua negara memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar tambahan pengalaman akademik. Ia memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana sistem pendidikan yang berbeda bekerja dan kemudian membandingkannya secara langsung. “Menurutku, bisa merasakan dua-duanya di waktu yang sama itu hal yang pastinya bantu aku buat berkembang banget,” ungkapnya.
Kezia mendorong mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk mengikuti program double degree agar tidak ragu mencobanya.Menurutnya, pengalaman semacam ini membuka perspektif baru mengenai pendidikan sekaligus kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya belum terpikirkan.“Itu tidak cuma membuka perspektif baru, tapi juga kesempatan baru,” pungkas Kezia.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Kezia
