Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada Pesisir Gorontalo menyelenggarakan Festival Momaya di Botuboluo Beach Park, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo, pada 30 Juli hingga 2 Agustus silam sebagai puncak rangkaian pengabdian Periode II Tahun 2026. Kegiatan yang mengusung tema ‘Bersatu dalam Semangat, Berpisah dengan Hangat’ ini menjadi wadah untuk mengenalkan budaya, potensi lokal, serta berbagai luaran program yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Lobuto Timur, Botuboluo, dan Luluo. Festival tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Gorontalo, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Gorontalo, perangkat desa, serta masyarakat yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Momentum ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung pelestarian budaya serta pengembangan potensi desa.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PPM UGM, Prof. Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., menilai Festival Momaya mencerminkan hasil kolaborasi yang kuat antara mahasiswa dan masyarakat selama pelaksanaan KKN. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan festival menunjukkan bahwa program pengabdian mampu menghadirkan manfaat yang dirasakan bersama. Antusiasme masyarakat yang tinggi juga menjadi indikator keberhasilan mahasiswa dalam membangun kedekatan dengan lingkungan tempat mereka mengabdi. “Selama bertahun-tahun mendampingi berbagai tim KKN, baru kali ini saya menyaksikan sebuah kelompok yang mampu menginisiasi festival dengan skala sebesar ini,” ujarnya.
Ketua Pelaksana Festival Momaya, Dewaku Sahaja, mengatakan penyelenggaraan festival merupakan hasil gotong royong mahasiswa bersama masyarakat di tiga desa selama masa pengabdian. Berbagai tantangan yang dihadapi sejak awal pelaksanaan KKN tidak mengurangi semangat tim untuk menghadirkan kegiatan yang mampu mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperkenalkan potensi desa kepada publik. Melalui festival tersebut, mahasiswa berharap hasil pengabdian yang telah dilakukan dapat terus memberikan manfaat setelah program KKN berakhir. “Kami sangat berterima kasih atas antusiasme dan partisipasi masyarakat yang telah menyukseskan Festival Momaya. Semoga kegiatan ini menjadi ruang untuk merayakan kebersamaan sekaligus memperkenalkan potensi desa yang telah kami bangun bersama,” tuturnya.

Selama festival berlangsung, masyarakat disuguhi beragam pertunjukan seni dan budaya, termasuk Tari Dana-Dana yang dibawakan sebagai penyambutan tamu undangan. Mahasiswa juga memperkenalkan berbagai hasil pengabdian yang telah dikembangkan bersama masyarakat, mulai dari website dan masterplan potensi desa hingga sejumlah program pemberdayaan yang dipamerkan kepada pengunjung. Rangkaian kegiatan turut diramaikan dengan edukasi literasi keuangan dari Bank Indonesia, bazar UMKM, serta pameran produk unggulan masyarakat. Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat potensi desa sekaligus hasil kolaborasi yang terbangun selama pelaksanaan KKN.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Momaya turut disampaikan perwakilan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Gorontalo, Yusrianto Kadir, M.Ec.Dev. Menurutnya, sinergi yang dibangun mahasiswa bersama masyarakat menjadi contoh nyata bagaimana pengabdian perguruan tinggi dapat mendorong pembangunan daerah berbasis kolaborasi. Ia berharap semangat tersebut terus terjaga dan berkembang melalui berbagai inisiatif setelah program KKN selesai. “Sinergi yang telah terjalin sangat baik antara mahasiswa dan masyarakat desa merupakan contoh nyata dari semangat pengabdian yang harus terus dipertahankan untuk pembangunan daerah ke depan,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Gorontalo juga menyambut baik berbagai program yang dihasilkan mahasiswa KKN-PPM UGM selama berada di Kecamatan Biluhu. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Gorontalo, Drs. Nawir Tondako, M.E., menilai keberlanjutan program menjadi faktor penting agar manfaat pengabdian dapat terus dirasakan masyarakat. Komitmen tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan perguruan tinggi. “Program pengabdian masyarakat hendaknya tidak berhenti, tetapi perlu dijaga keberlanjutannya agar dampak positifnya dapat terus dirasakan secara jangka panjang oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Nawir.
Festival Momaya 2026 ditutup dengan pemutaran video dokumentasi perjalanan KKN-PPM UGM yang merekam berbagai program pengabdian selama mahasiswa berada di Kecamatan Biluhu. Dokumentasi tersebut menjadi pengingat atas kolaborasi yang telah terbangun antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai mitra dalam mengembangkan potensi desa. Melalui Festival Momaya, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap semangat pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan potensi lokal terus berlanjut meskipun masa pengabdian telah berakhir.
Reportase: Tim KKN-PPM Gorontalo
Penulis: Triya Andriyani
