Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyerahkan bantuan berupa alat bantu disabilitas kepada sembilan mahasiswa Universitas GAdjah Mada penyandang disabilitas. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis di Kantor Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, Selasa (31/8) oleh Ketua Dewan Komisioner LPS, Prof. Anggito Abimanyu, kepada Ketua ULD Wuri Handayani, Ph.D., dan perwakilan mahasiswa penerima. Bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa ini diharapkan dapat mengurangi hambatan dalam beraktivitas sekaligus mendukung mereka untuk belajar, berprestasi, dan mengembangkan potensi secara optimal.
Sekretaris Universitas UGM, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, S.H., LL.M., menyebut bahwa keberadaan ULD UGM menjadi bagian dari upaya universitas dalam menyediakan dukungan yang semakin baik bagi mahasiswa disabilitas. Menurutnya, ULD yang telah berjalan hampir dua tahun terus dikembangkan meskipun selama ini belum banyak mendapat perhatian dari pihak luar. “UGM terus berupaya untuk menyiapkan infrastruktur yang baik bagi teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Ia mengapresiasi LPS yang telah memberikan perhatian dan dukungan kepada mahasiswa UGM. Sebelumnya, LPS juga pernah memberikan dukungan melalui program beasiswa pendidikan. Kali ini, dukungan diberikan dalam bentuk alat bantu yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas. Ia berharap, bantuan tersebut tidak hanya membantu mahasiswa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi pemantik agar mereka semakin percaya diri dalam mengembangkan potensi dan prestasi. “Kami berharap bantuan ini adalah pemantik awal supaya teman-teman bisa berprestasi ke depan,” tuturnya.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Prof. Anggito Abimanyu, M.Sc., mengatakan pemberian bantuan alat bantu disabilitas merupakan bentuk kepedulian sosial LPS, khususnya dalam mendukung bidang pendidikan dan kesehatan. Menurutnya, UGM menjadi salah satu mitra yang dapat menghubungkan dukungan tersebut dengan mahasiswa yang membutuhkan. Ia menjelaskan, alat bantu yang diberikan tidak disamaratakan, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing penerima. Proses tersebut juga mempertimbangkan rekomendasi medis agar bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat secara optimal. “Ini bantuan untuk sembilan mahasiswa penerima untuk berbagai fasilitas. Kita mempertimbangkan kondisi dan rekomendasi medis dari masing-masing penerima manfaat,” jelasnya.
Ia menyebut terdapat beberapa alat bantu yang diserahkan, antara lain alat bantu dengar, ear plug, kacamata, dan tongkat sensor. Menurutnya, penyesuaian alat bantu menjadi penting karena setiap mahasiswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Ia juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap pemanfaatan bantuan tersebut. Umpan balik dari para penerima akan menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan program serupa. “Semoga teman-teman dapat memanfaatkan dengan baik,” ujarnya.
Dukungan bantuan tersebut turut dirasakan langsung oleh mahasiswa penerima bantuan. Salah satunya Hanif, mahasiswa penyandang disabilitas tuli. Ia menyampaikan apresiasi kepada LPS, ULD UGM, dan Yayasan Sharing Happiness atas dukungan yang diberikan. Menurutnya, bantuan alat bantu disabilitas dapat meningkatkan semangat dan motivasi mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Ia berharap, bantuan tersebut tidak hanya memberikan manfaat selama menempuh pendidikan di UGM, tetapi juga dapat mendukung penerima untuk berkontribusi lebih luas setelah lulus. “Semoga Semoga kerja sama atau kolaborasi kita enggak cuma sampai di sini saja. Insya Allah ke depan masih ada peluang untuk kolaborasi, bersama-sama membentuk Indonesia yang inklusif,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Aulia Rachmi, mahasiswa penyandang disabilitas netra. Aulia menerima bantuan berupa tongkat sensor yang menurutnya dapat membantu mobilitas sekaligus mendeteksi kondisi di sekitar. Ia berharap tongkat tersebut dapat mendukung aktivitasnya, termasuk ketika melanjutkan studi. Ia juga berharap bantuan dan kolaborasi yang terjalin dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa dan masyarakat penyandang disabilitas. “Harapannya dengan tongkat ini saya dapat bermanfaat bagi sesama, bagi masyarakat luas, dan terutama bagi saya ketika nanti saya melanjutkan studi,” pungkas Aulia.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
