Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar dan terpencil di samudra Hindia yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau ini yang memiliki luas 400,6 Km persegi yang dihuni 4000 jiwa ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah sama sekali. Letak Pulau Enggano yang berada di 150 mil laut dari daratan bengkulu ini menjadi tantangan tersendiri dalam menangani persoalan sampah di wilayah 3T tersebut. “Karena itu, ketika kami berkolaborasi dengan teman-teman KKN, kami tidak ingin hanya datang memberikan penyuluhan. Kami ingin mahasiswa menawarkan solusi,” ujarnya salah satu pengurus Kagamahut, Anggun Fitria, Senin (10/8) .
Koordinator Mahasiswa Tingkat Sub-unit, Danendra Serafino, mengatakan memasuki minggu terakhir pelaksanaan KKN-PPM Periode II Tahun 2026, Tim KKN-PPM UGM Kaneke Enggano 2026 telah menggulirkan berbagai program pemberdayaan masyarakat di Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Provinsi Bengkulu. Terhitung selama 50 hari pengabdian yang dimulai pada 20 Juni 2026, tim yang terdiri dari 30 mahasiswa lintas jurusan tersebut telah melaksanakan berbagai program di enam desa, yakni Desa Malakoni, Apoho, Kahyapu, Kaana, Meok, dan Banjarsari.
Adapun salah satu sektor yang menjadi perhatian Tim KKN-PPM UGM Kaneke Enggano 2026 adalah sektor lingkungan. Bersama Kagamahut dan Kagama Bengkulu, tim telah melaksanakan dua program pemberdayaan, yakni pengelolaan sampah dan penanaman bibit pohon, melalui aksi bertajuk “Menuju Enggano Bersih dan Berkelanjutan.
Ia menerangkan kedua program tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi pengelolaan sampah di Pulau Enggano yang masih sangat terbatas. Menurutnya, keterbatasan fasilitas penampungan sampah membuat masyarakat umumnya masih membakar sampah, bahkan membuangnya ke laut. “Jadi, yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah,” kata Danendra.
Untuk mengatasi persoalan sampah di Pulau Enggano, tim KKN PPM memperkenalkan pengelolaan sampah organik maupun anorganik kepada masyarakat. Selain itu, tim juga mendorong pembentukan bank sampah unit yang nantinya dapat terhubung dengan bank sampah induk di Bengkulu. Meski demikian, tantangan utama program tersebut terletak pada mobilisasi sampah yang akan digulirkan dari Enggano menuju Bengkulu. “Kami mencoba mengusulkan agar nantinya pemerintah dapat menjalin kerja sama dengan pihak pelabuhan sehingga distribusi sampah yang telah dipilah menjadi lebih memungkinkan,” jelasnya.
Selain itu, tim juga mengajarkan masyarakat setempat mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi. Di antaranya melalui pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah serta pemanfaatan tutup botol plastik menjadi souvenir. Menurutnya, pemanfaatan sampah tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah anorganik di Pulau Enggano, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. “Nah, kami melihat bahwa Pulau Enggano, sebagai tempat wisata, masih sangat minim produk suvenir. Oleh karena itu kami mengajarkan pemanfaatan tutup botol plastik menjadi suvenir, sehingga selain mengurangi sampah plastik, masyarakat juga memperoleh peluang ekonomi dari wisatawan,” pungkasnya.
Terlepas dari penyuluhan pengelolaan sampah organik dan anorganik, tim KKN bersama Kagamahut juga melakukan penanaman 1.000 bibit pohon sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan di Pulau Enggano. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan BPDAS Ketahun dan pemerintah daerah, serta turut dihadiri oleh anggota DPR RI, Dewi Coryati. “Program ini kami lakukan untuk meningkatkan tutupan vegetasi di Pulau Enggano. Bibit pohon kami tanam secara zig-zag agar dapat menjadi pelindung alami dari angin laut karena kawasan ini merupakan wilayah pesisir,” papar Anggun Fitria.

Fitria menegaskan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, kolaborasi yang terjalin melalui program pemberdayaan tersebut merupakan langkah nyata untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan. “Bumi sudah memberikan banyak manfaat kepada kita. Dan ini saatnya kita memberikan kembali, menjaga bumi yang sudah menjaga kita. Kita hanya punya satu planet, mau itu sampah siapapun, ini planet kita, jadi kita jaga bersama-sama,” kata Fitria.
Hal senada juga disampaikan Danendra Serafino, menurutnya Pulau Enggano memiliki potensi alam yang luar biasa dan perlu dijaga. Menurutnya, keindahan alam pulau tersebut akan semakin bernilai apabila diiringi dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Pulau Enggano itu benar-benar pulau cantik, alam di sini benar-benar khas, sayang kalau tidak dijaga. Maka dari itu, lewat program yang telah kami lakukan, kami berharap pulau ini bisa lebih bersih dan masyarakatnya dapat lebih sejahtera,” harapnya.,
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok Tim KKN dan Wisata Bengkulu Utara
