Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, memberikan wejangan kepada 314 mahasiswa baru dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari di Indonesia, Kamis (6/8), di Selasar Gedung IFFLC Fakultas Kehutanan. Rohmat yang hadir sebagai Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia sekaligus alumnus Fakultas Kehutanan UGM yang mengenang kembali masa-masa awal perkuliahannya ketika melihat antusiasme para rimbawan muda yang mengikuti kegiatan PIONIR Pelestari.
Semasa menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM, Rohmat mengaku dirinya saat jadi mahasiswa yang sangat aktif, tidak hanya dalam kegiatan akademik, tetapi juga berbagai organisasi kemahasiswaan. Keterlibatannya di himpunan mahasiswa, organisasi tingkat nasional maupun internasional, perlombaan, serta kepanitiaan berbagai kegiatan turut membentuk jiwa kepemimpinannya, meningkatkan soft skill, sekaligus memperluas jejaring dan relasi yang bermanfaat bagi perjalanan kariernya. Kendati demikian, Rohmat berpesan kepada rimbawan muda untuk tetap menyeimbangkan kewajibannya dalam menimba ilmu, meskipun mengikuti berbagai macam agenda di luarnya.
Ketertarikannya pada bidang kehutanan diakui Rohmat telah terbentuk sejak menjadi mahasiswa. Ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari penelitian, praktik di Perhutani, hingga organisasi non pemerintah (LSM). Pengalaman tersebut membuatnya telah akrab dengan kondisi lapangan ketika memulai karier di kementerian. “Pengen tahu dan ingin mencoba, sehingga ketika saya masuk kementerian sudah familiar dengan lapangan,” ujarnya.
Dikatakan oleh Rohmat, hutan Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah Brazil dan Kongo, serta urutan kedua terkaya dari segi flora dan faunanya. Dengan demikian, Rohmat menegaskan bahwa hutan Indonesia merupakan pusat perhatian mancanegara sehingga ramai berdatangan tawaran kerjasama untuk mengelola dan melestarikan hutan Indonesia. “Atensi dari dunia itu banyak sekali sehingga kerja sama internasional juga banyak,” tuturnya.
Tingginya perhatian masyarakat internasional terhadap isu kehutanan membuka peluang karir yang semakin luas bagi lulusan kehutanan. Kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang ini pun terus meningkat, baik di sektor pemerintahan, industri, lembaga swadaya masyarakat, maupun organisasi internasional. “Jadi sangat banyak, ya, peluang untuk lulusan kehutanan,” tambahnya.
Kekayaan sumber daya kehutanan yang sangat besar, terutama ekosistem hutan mangrove dan gambut berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Menurutnya, kedua ekosistem tersebut memiliki kemampuan menyerap karbon yang lebih besar dibandingkan ekosistem daratan sehingga perlu dikelola secara berkelanjutan. Pengelolaan tersebut tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga akademisi. “Mangrove, gambut, menyerap karbon lebih besar daripada di daratan. Luar biasa kekayaan kehutanan di Indonesia. Kita harus kelola dan tidak bisa sendiri, melainkan harus berkolaborasi dengan masyarakat dan berbagai pihak,” ujarnya.
Rohmat menambahkan dampak perubahan iklim kini semakin nyata sehingga pengelolaan hutan di masa depan harus lebih adaptif dan berorientasi pada pemulihan ekosistem, contohnya perihal karbon. “Sekarang ini perubahan iklim sangat nyata. Kita butuh pengelolaan hutan yang tahan terhadap iklim. Kedepannya kita fokuskan kepada restoratif. Pesan saya, teman-teman bisa belajar soal karbon juga,” pesannya.
Rohmat juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi sebagai bekal bagi mahasiswa kehutanan. Menurutnya, penguasaan teknologi informasi, teknologi spasial, penginderaan jauh, hingga kecerdasan buatan (AI) menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia kehutanan. “Kalian mahasiswa harus adaptif. Bukan hanya terhadap lingkungan kampus, tetapi juga adaptif dengan perkembangan teknologi yang ada. Teknologi informasi, teknologi spasial, penginderaan jauh, AI. Itu harus kalian pelajari, kalian kuasai,” ujarnya.
Ia mencontohkan penerapan teknologi di Kementerian Kehutanan melalui sistem early warning untuk mendeteksi pembukaan lahan di kawasan hutan dengan memanfaatkan citra satelit dari BRIN dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada unit pelaksana teknis di lapangan untuk memverifikasi penyebab pembukaan lahan, baik akibat kebakaran hutan, pembalakan liar, perambahan, maupun faktor lainnya. Selain itu, kementerian juga memanfaatkan drone untuk mendukung pemantauan satwa liar, mulai dari mengidentifikasi populasi, habitat, hingga wilayah jelajahnya.
Menjawab pertanyaan para mahasiswa baru mengenai peran rimbawan muda dalam mengatasi deforestasi, Rohmat menjelaskan deforestasi tidak mencakup kegiatan penebangan pada hutan tanaman industri yang disertai penanaman kembali sesuai siklus produksi. Menurut definisi internasional dan kementrian, lanjut Rohmat, deforestasi lebih mengacu pada hilangnya tutupan hutan akibat aktivitas ilegal, seperti pembalakan liar, perambahan, dan kebakaran hutan.
Rohmat mengatakan Indonesia masih memiliki sekitar 6,6 juta hektare lahan kritis di dalam kawasan hutan dan sekitar 5,6 juta hektare di luar kawasan hutan. Melalui program rehabilitasi yang dijalankan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), mahasiswa dapat berkontribusi secara langsung dalam pemulihan hutan dan lahan. “Adik-adik mahasiswa yang mau belajar ilmu, kalian ingin berkontribusi nyata, mari bersama dengan Kementerian Kehutanan melalui BPDAS untuk ikut terlibat dalam penanaman,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
