Peningkatan suhu bumi, perubahan pola cuaca ekstrem, hingga meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologis menunjukkan bahwa kondisi lingkungan saat ini tengah menghadapi tekanan yang semakin serius. Tidak hanya menjadi persoalan ekologis, krisis ini juga berkaitan erat dengan aktivitas manusia, khususnya industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlangsung dalam jangka panjang.
Di Indonesia, dampak perubahan iklim turut dirasakan melalui meningkatnya kejadian cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan kemunculan siklon tropis yang semakin mendekati wilayah ekuator. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam sistem atmosfer yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, momentum Hari Bumi pada 22 april lalu menjadi pengingat penting bahwa upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dilakukan secara berkelanjutan dan kolektif.
Pakar Studi Lingkungan Hidup UGM, Prof. Dr.rer.nat. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa perubahan iklim saat ini merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari, namun masih dapat dikelola melalui langkah mitigasi dan adaptasi. “Perubahan iklim itu sudah sesuatu yang tidak bisa kita hindari saat ini. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan yang ada,” ujarnya, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologis, seperti hujan ekstrem dan siklon tropis, menjadi indikator nyata dari krisis iklim yang sedang berlangsung. Menurutnya, perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, terutama peningkatan emisi gas rumah kaca akibat industrialisasi dan pertumbuhan populasi.
Djati menambahkan kondisi ini diperparah dengan meningkatnya eksploitasi sumber daya alam, termasuk penggunaan bahan bakar fosil dan berkurangnya tutupan hutan. Oleh karena itu, langkah yang paling realistis saat ini adalah memperlambat laju kerusakan lingkungan melalui pengurangan emisi dan pengelolaan sumber daya yang lebih bijak. “Upaya ini membutuhkan komitmen jangka panjang dan perubahan pola pikir dalam pembangunan,” terangnya.
Dalam konteks global, ia juga menyoroti pentingnya kerja sama antarnegara dalam menangani krisis iklim. “Bumi ini cuma satu, sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa baik negara maju maupun berkembang memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, meskipun kontribusi dan kapasitas masing-masing negara berbeda.
Sementara itu, isu lingkungan di Indonesia juga tidak terlepas dari dinamika ekonomi dan politik. Salah satu contoh yang disorot adalah komoditas kelapa sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun juga menimbulkan dampak lingkungan jika tidak dikelola secara bijak. Kebijakan seperti moratorium sawit dinilai perlu dipertimbangkan secara komprehensif, mengingat adanya keterkaitan dengan aspek penghidupan masyarakat, lapangan kerja, serta kontribusi terhadap devisa negara. “Perlu kita sadari jika sawit itu memang menguntungkan. Tetapi tentu menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa isu lingkungan tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan ekologis, melainkan juga mencakup dimensi ekonomi dan politik. Dalam banyak kasus, negara berkembang kerap dihadapkan pada dilema antara menjaga lingkungan dan memenuhi kebutuhan pembangunan. Di sisi lain, negara maju dinilai belum sepenuhnya bertanggung jawab dalam mendukung upaya konservasi secara global, terutama dalam hal pembiayaan dan transfer teknologi.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi landasan penting. Ia menekankan perlunya kesadaran untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan dalam memanfaatkan sumber daya alam. “Bumi ini mampu memenuhi semua kebutuhan manusia, tetapi tidak akan mampu memenuhi semua keinginan manusia,” tuturnya.
Menurutnya, prinsip ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan lingkungan. Sebagai penutup, Djati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga bumi sebagai warisan bersama. Ajakan ini menjadi refleksi bahwa tanggung jawab menjaga bumi tidak hanya berada di tangan pemerintah atau pihak tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh umat manusia.“Mari kita rawat bersama dan kita lestarikan untuk kepentingan bersama,” pesannya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik
