Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada mendampingi pelaku UMKM madu kelulut di Desa Mabuan, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, untuk mengembangkan identitas usaha dan memperluas jangkauan pemasaran. Madu kelulut merupakan madu alami yang dihasilkan lebah tanpa sengat (stingless bee) dari genus Trigona atau Heterotrigona. Madu ini memiliki cita rasa asam manis yang khas, kadar air lebih tinggi, serta kaya akan kandungan antioksidan sehingga memiliki nilai ekonomi yang potensial untuk dikembangkan. Melalui program tersebut, mahasiswa membantu pelaku usaha membangun identitas produk sekaligus memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Pendampingan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing madu kelulut sebagai salah satu produk unggulan Desa Mabuan.
Program pendampingan dilaksanakan oleh Tim KKN-PPM UGM Kesan Barisan Periode II melalui kolaborasi dua mahasiswa, Abel Dea Novita dan Cayentiya Nailah Adinda. Pendampingan difokuskan pada penyusunan profil usaha, pembuatan logo, pengembangan desain kemasan, serta penguatan strategi promosi sebagai bagian dari peningkatan citra produk. Menurut tim, identitas usaha yang kuat menjadi salah satu modal penting agar produk lokal lebih mudah dikenali dan dipercaya oleh konsumen. “Madu kelulut Ibu Tri memiliki potensi untuk dikembangkan, tetapi potensi tersebut perlu didukung dengan identitas dan pemasaran yang lebih kuat. Melalui branding dan digitalisasi, kami ingin membantu produk ini memiliki wajah yang lebih jelas sehingga lebih mudah dikenali dan dipromosikan kepada masyarakat,“ ujar Abel, Selasa (4/8).
Penyusunan profil usaha menjadi salah satu langkah awal untuk memperkenalkan madu kelulut secara lebih terarah kepada calon konsumen. Profil tersebut memuat informasi mengenai identitas usaha, karakteristik produk, hingga nilai unggul yang dapat digunakan sebagai media promosi. Sementara itu, pengembangan logo dan kemasan dilakukan agar produk memiliki tampilan yang lebih konsisten, menarik, dan mencerminkan identitas usaha. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi produk di pasar.
Selain memperkuat identitas usaha, mahasiswa juga mengenalkan pemanfaatan media digital sebagai sarana pemasaran. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa bergantung sepenuhnya pada promosi dari mulut ke mulut. Dengan memanfaatkan platform digital, peluang pemasaran produk diharapkan semakin terbuka sekaligus memperluas jejaring pelanggan di luar wilayah Desa Mabuan. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong UMKM agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Pemilik usaha madu kelulut, Ibu Tri, mengaku tantangan terbesar yang dihadapi selama ini bukan terletak pada proses produksi, melainkan pada upaya memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, keterbatasan strategi pemasaran membuat produk yang telah dihasilkan belum banyak dikenal oleh calon konsumen di luar desa. Ia berharap pendampingan yang diberikan mahasiswa dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. “Harapannya, setelah mahasiswa KKN selesai, apa yang sudah dibuat bisa terus digunakan dan dikembangkan. Semoga madu kelulut ini semakin dikenal, pemasarannya semakin luas, dan usaha ini bisa terus berjalan serta berkembang,” ungkapnya.
Melalui pendampingan tersebut, Tim KKN-PPM UGM berharap penguatan identitas usaha dan pemanfaatan media digital dapat menjadi langkah awal bagi pengembangan madu kelulut sebagai produk unggulan Desa Mabuan. Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada pembaruan tampilan produk, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya secara mandiri. Dengan dukungan strategi pemasaran yang lebih terarah, produk lokal diharapkan memiliki daya saing yang semakin kuat sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Reportase: Tim KKN-PPM UGM Kesan Barisan
Penulis: Triya Andriyani
