Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM dan National University of Singapore (NUS) bekerja sama dalam penyelenggaraan Southeast Asia Friendship Initiative, sebuah program eksposur internasional yang diinisiasi oleh NUS, King Edward VII Hall. Kegiatan yang diikuti oleh 44 mahasiswa serta sejumlah dosen dari UGM dan NUS ini akan berlangsung pada 21–22 Mei 2026 di FTP UGM tersebut menghadirkan rangkaian kegiatan bertema Tanpa Kelaparan, mulai dari sesi pemaparan materi hingga berbagai aktivitas pendukung yang dirancang untuk memperkuat proses pembelajaran dan kolaborasi antar peserta.
Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan global serta mempererat hubungan antarmahasiswa dari kedua institusi melalui berbagai kegiatan akademik dan pertukaran budaya
Ia mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh UGM dan NUS ini yang mengangkat tema Zero Hunger atau tanpa kelaparan. Menurut Eni, tema tersebut sangat relevan terkait kondisi Asia Tenggara tengah menghadapi berbagai tantangan kompleks dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, kesehatan masyarakat, transformasi digital, hingga kesehatan perusahaan. “Tantangan ini tidak bisa diatasi oleh satu negara atau satu institusi saja. Tantangan tersebut membutuhkan solidaritas regional, kolaborasi interdisipliner, serta keterlibatan aktif universitas sebagai pusat pengetahuan dan inovasi,” ungkapnya, Kamis (21/5) di FTP UGM.
Eni menekankan komitmen UGM dalam mencetak mahasiswa yang unggul dalam bidang penelitian serta mampu memberikan dampak di tingkat global. Bahkan UGM berupaya mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan Asia Tenggara yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. “Kami berhasrat mencetak pelajar yang unggul dan berpengaruh dalam bidang penelitian, serta mampu berkontribusi terhadap pengembangan Asia Tenggara sebagai kawasan yang resilien, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga berharap Southeast Asia Friendship Initiative dapat menjadi jembatan yang menghubungkan ide, budaya, dan generasi masa depan di kawasan Asia Tenggara. “Semoga inisiatif ini menjadi jembatan yang menghubungkan ide, budaya, dan generasi masa depan Asia Tenggara,” tuturnya.
Kepala Kantor Hubungan Internasional UGM, Tyas Ikhsan Hikmawan, menilai isu yang berkaitan dengan SGDs, khususnya tentang Zero Hunger atau Tanpa Kelaparan, menjadi perhatian penting bagi kepentingan nasional maupun pengembangan universitas. Menurutnya, tantangan pangan dan pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak melalui kolaborasi lintas negara dan institusi. Melalui inisiatif tersebut, Tyas berharap para peserta tidak hanya dapat bertukar pengetahuan dan gagasan, tetapi juga membangun pemahaman serta rasa tanggung jawab bersama dalam menciptakan solusi yang relevan bagi tantangan global. “Solusi global membutuhkan persahabatan global,” ujarnya.
Perwakilan NUS, Giuseppe Timperio, menyampaikan bahwa Southeast Asia Friendship Initiative pertama kali dimulai pada 2023 sebagai upaya NUS menanamkan kesadaran kepada generasi pemimpin masa depan mengenai pentingnya kesejahteraan dan keberlanjutan lintas institusi. Ia menjelaskan bahwa dalam mencari mitra pelaksanaan program, NUS memandang Universitas Gadjah Mada sebagai mitra strategis yang memiliki visi serupa. Menurutnya, perhatian UGM terhadap isu ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat sejalan dengan nilai yang dikembangkan oleh NUS. “UGM merupakan mitra strategis bagi NUS. Saya sangat senang mengetahui bahwa UGM, seperti NUS, juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan pangan,” ungkap Giuseppe.
Penulis/Foto : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
