Teuku Jacob dikenal sebagai Mantan Rektor UGM. Namun lebih dari itu dari sisi keilmuan, ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan yang konsisten meneliti manusia purba. Ketertarikannya pada riset manusia purba karena asma yang diidap membuatnya tidak tahan dengan bau mayat. Akhirnya ia memilih ilmu Antropologi Ragawi. Pengabdiannya pada bidang inilah yang mengantarkannya membuka pengetahuan baru bagi umat manusia dengan penemuan fosil Homo erectus Jawa di Sangiran pada 1962 dan Homo floresiensis di Liang Bua, Pulau Flores. Penemuan Jacob membantunya membantah hipotesis yang menyebutkan manusia purba Jawa memiliki kebiasaan memenggal dalam praktik kanibalisme.
Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, menilai bahwa warisan pemikiran Prof. Teuku Jacob memberikan teladan mengenai pentingnya kepemimpinan berbasis kepakaran, peran akademisi sebagai public school, serta keterlibatan aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Menurutnya, seorang akademisi tidak hanya dituntut memiliki kepakaran yang kuat, tetapi juga mampu menghadirkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan kemanusiaan. Karena itu, akademisi masa depan perlu menjadi sosok yang berakar pada persoalan bangsa sekaligus mampu berkontribusi di tingkat internasional. “Warisan terbesar Teuku Jacob bukanlah jabatan atau laboratoriumnya, melainkan teladan bahwa ilmu pengetahuan harus selalu diabdikan untuk kemanusiaan,” tegasnya dalam Seminar Pemikiran Bulaksumur edisi ke-49 “Peradaban Manusia, Lingkungan Hidup, dan Perdamaian Dunia: Pemikiran Teuku Jacob”, Jumat (5/6) di Balai Senat UGM.
Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UGM Prof. Dr. M. Baiquni, menyampaikan keprihatinannya terhadap peradaban manusia modern yang tidak hanya melahirkan konflik dan peperangan, tetapi juga berkontribusi dalam kerusakan ekosistem bumi. Oleh sebab itu ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berperan dalam mendamaikan peradaban manusia dengan ekosistem bumi.
Ia mengenang pemikiran Prof. Teuku Jacob yang mendorong kajian perdamaian melalui ilmu polemologi serta pendirian Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. Menurutnya, berbagai bencana besar sepanjang sejarah, mulai dari letusan Gunung Toba purba hingga tsunami Aceh, menunjukkan pentingnya kemampuan manusia untuk beradaptasi dan belajar dari alam. “Perdamaian itu adalah bagaimana kita hidup damai dengan diri sendiri dan hidup damai dengan ekosistem bumi,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menjelaskan salah satu persoalan mendasar dalam peradaban modern ialah masih kuatnya pemisahan antara alam (nature) dan budaya (culture). Dalam cara pandang tersebut, manusia ditempatkan sebagai pusat peradaban yang dianggap memiliki otoritas untuk mengendalikan dan mengeksploitasi alam. “Dikotomi ini melahirkan praktik-praktik eksploitasi tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kelompok manusia lain yang dianggap lebih lemah,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam ilmu sosial, tubuh tidak hanya dipahami sebagai entitas biologis, tetapi juga sebagai “tubuh sosial” yang mencerminkan kondisi masyarakat. Adanya konflik yang terjadi di masyarakat menurutnya menunjukkan bahwa klaim manusia sebagai makhluk beradab masih perlu dipertanyakan. Ia juga mengkritik cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat sehingga merasa berhak mengeksploitasi alam maupun sesama manusia. Karena itu, ia menekankan bahwa pemikiran Prof. Teuku Jacob hingga saat ini masih relevan dalam memahami bagaimana hubungan antara manusia, masyarakat, dan peradaban.
Guru Besar FK-KMK sekaligus Antropolog UGM, Prof. Dr. Etty Indriati, memaparkan perkembangan peradaban manusia dari perspektif antropologi dan evolusi. Perkembangan evolusi manusia ditandai dari peningkatan kapasitas otak yang memungkinkan lahirnya kemampuan berbahasa, berpikir abstrak, hingga menghasilkan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, ia menilai bahwa kemajuan tersebut belum diimbangi dengan kemampuan manusia menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. “Manusia saat ini sudah pandai, tapi belum pandai untuk merawat lingkungan,” tuturnya.
Ia menyebut bahwa dunia saat ini telah memasuki era Antroposen, merupakan masa ketika aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan dan kerusakan lingkungan. Karena itu, ia mendorong penguatan kesadaran ekologis melalui pendekatan ekoteologi yang menempatkan manusia, alam, dan Tuhan dalam hubungan yang saling terhubung serta mengakui alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik dan layak dilindungi. “Manusia tidak bisa lagi memandang alam hanya sebagai objek yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Guru Besar Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Prof. Dr. Dra. Siti Mutiah Setiawati, M.A., menyoroti dinamika konflik yang terjadi di Timur Tengah sebagai refleksi atas adanya tantangan mewujudkan perdamaian dunia. Menurutnya, konflik yang terjadi di wilayah tersebut tidak semata akibat hanya perebutan wilayah, tetapi juga berkaitan dengan persoalan sejarah, identitas, agama, dan kepentingan geopolitik.
Menilik pemikiran Johan Galtung, ia menjelaskan bahwa perdamaian tidak tidak cukup hanya dimaknai dengan tidak adanya perang atau kekerasan, tetapi harus dibangun atas keadilan, penghormatan terhadap HAM, serta kedaulatan negara. Ia juga menilai para akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan berkontribusi dalam upaya mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan. “Perdamaian positif itu tidak hanya sekadar tidak ada kekerasan, tetapi harus ada keadilan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan hak menentukan nasib sendiri,” jelasnya.
Mantan Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, Achmad Munjid, M.A., Ph.D., menyoroti adanya gejala rasisme dan eksklusivisme yang terjadi di berbagai negara Barat yang dipicu oleh adanya Great Replacement. Ketakutan sebagian kelompok terhadap adanya pertumbuhan populasi imigran telah melahirkan berbagai bentuk diskriminasi hingga kekerasan berbasis identitas. Kondisi tersebut membuat solidaritas kemanusiaan semakin sulit dibangun karena masyarakat lebih terjebak pada identitas kelompok dibandingkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. “Yang seharusnya dibangun adalah solidaritas kemanusiaan, bukan sekadar solidaritas kelompok,” ujarnya.
Ia mengajak para akademisi dan mahasiswa untuk memiliki ambisi moral dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan. Mengutip pemikiran Rutger Bregman, ia mengkritik fenomena ketika lulusan terbaik perguruan tinggi hanya berorientasi pada keuntungan dan karier pribadi tanpa memberikan dampak bagi masyarakat. Menurutnya, akademisi perlu menggunakan pengetahuan dan bakat yang dimiliki untuk mendorong transformasi sosial yang lebih adil dan sejahtera. “Kita membutuhkan orang-orang berbakat yang menggunakan talentanya untuk mendorong perubahan sosial, bukan sekadar menjaga status quo,” pungkasnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
